Definisi Respirasi
Pengertian pernafasan atau respirasi adalah peristiwa menghirup udara dari luar
yang mengandung oksigen serta menghembuskan udara yang banyak mengandung
karbondioksida sebagai sisa dari oksidasi keluar dari tubuh. Menusia dalam
bernapas menghirup oksigen dalam udara bebas dan membuang karbondioksida ke
lingkungan.
Mekanisme Pernafasan
Dibedakan menjadi 2, yaitu Pernafasan Dada dan Pernafasan Perut.
a. Pernafasan dada
Pernapasan dada adalah pernapasan yang melibatkan otot antartulang rusuk.
Mekanismenya dapat dibedakan sebagai berikut.
1. Fase inspirasi. Fase ini berupa berkontraksinya otot
antartulang rusuk sehingga rongga dada membesar, akibatnya tekanan dalam rongga
dada menjadi lebih kecil daripada tekanan di luar sehingga udara luar yang kaya
oksigen masuk.
2. Fase ekspirasi. Fase ini merupakan fase relaksasi atau
kembalinya otot antara tulang rusuk ke posisi semula yang dikuti oleh turunnya
tulang rusuk sehingga rongga dada menjadi kecil. Sebagai akibatnya, tekanan di
dalam rongga dada menjadi lebih besar daripada tekanan luar, sehingga udara
dalam rongga dada yang kaya karbon dioksida keluar.
b. Pernafasan perut
Pernapasan perut adalah pernapasan yang melibatkan otot diafragma. Mekanismenya
dapat dibedakan sebagai berikut.
1.
Fase inspirasi. Fase ini berupa berkontraksinya otot diafragma sehingga rongga
dada membesar, akibatnya tekanan dalam rongga dada menjadi lebih kecil daripada
tekanan di luar sehingga udara luar yang kaya oksigen masuk.
2. Fase ekspirasi. Fase ini merupakan fase relaksasi atau
kembalinya otot diaframa ke posisi semula yang dikuti oleh turunnya tulang
rusuk sehingga rongga dada menjadi kecil. Sebagai akibatnya, tekanan di dalam
rongga dada menjadi lebih besar daripada tekanan luar, sehingga udara dalam
rongga dada yang kaya karbon dioksida keluar.
Organ Pernafasan
Alat-alat pernapasan pada manusia meliputi :
1.
Hidung,
2.Saluran pernapasan (faring, laring, trakea, bronkhus, bronkeolus, alveolus)
3.Paru-paru
gambar anatomi pernafasan
1. Hidung
Hidung merupakan organ pertama yang dilalui oleh udara. Di dalam rongga hidung
terdapat rambut-rambut dan selaput lendir, yang berfungsi sebagai penyaring,
penghangat, dan pengatur kelembaban udara yang akan masuk keparu-paru.
Sebaiknya bernapas selalu melalui hidung.
2. Saluran Pernapasan :
·
Faring
Faring
(tekak) merupakan persimpangan antara kerongkongan dan tenggorokan. Terdapat
katup yang disebut epiglotis (anak tekak) berfungsi sebagai pengatur jalan
masuk ke kerongkongan dan tenggorokan.
·
·
Laring
Laring adalah pangkal tenggorokan, terdiri atas kepingan tulang rawan membentuk
jakun dan terdapat celah menuju batang tenggorok (trakea) disebut glotis, di
dalamnya terdapat pita suara dan beberapa otot yang mengatur ketegangan pita
suara sehingga timbul bunyi.
·
·
Trakea (Batang Tenggorok)
Berupa pipa yang dindingnya terdiri atas 3 lapisan, yaitu lapisan luar terdiri
atas jaringan ikat, lapisan tengah terdiri atas otot polos dan cincin tulang
rawan, dan lapisan dalam terdiri atas jaringan epitelium besilia. Terletak di
leher bagian depan kerongkongan
·
·
Bronkhus
Merupakan percabangan trakea yang menuju paru-paru kanan dan kiri. Struktur
bronkhus sama dengan trakea, hanya dindingnya lebih halus. Kedudukan bronkhus
kiri lebih mendatar dibandingkan bronkhus kanan, sehingga bronkhus kanan lebih
mudah terserang penyakit
·
·
Bronkheolus
Bronkheolus adalah percabangan dari bronkhus, saluran ini lebih halus dan
dindingnya lebih tipis. Bronkheolus kiri berjumlah 2, sedangkan kanan berjumlah
3, percabangan ini akan membentuk cabang yang lebih halus seperti pembuluh.
·
·
Alveolus
Berupa saluran udara buntu membentuk gelembung-gelembung udara, dindingnya
tipis setebal selapis sel, lembab dan berlekatan dengan kapiler darah.
Alveolus berfungsi sebagai permukaan respirasi, luas total mencapai 100 m2 (50
x luas permukaan tubuh) cukup untuk melakukan pertukaran gas ke seluruh tubuh.
3. Paru-paru
Berjumlah sepasang terletak di dalam rongga dada kiri dan kanan. Paru-paru
kanan memiliki 3 lobus (gelambir), sedangkan paru-paru kiri memiliki 2 lobus
(gelambir). Di dalam paru-paru ini terdapat alveolus yang berjumlah ± 300 juta
buah. Bagian luar paru-paru dibungkus oleh selaput pleura untuk melindungi
paru-paru dari gesekan ketika bernapas, berlapis 2 dan berisi cairan.
Besarnya daya muat udara dalam paru-paru adalah 4500 – 5000 ml (4,5 – 5 liter).
Udara yang diproses dalam paru-paru (inspirsi dan ekspirasi) hanya 10%
atau
sekitar +- 500 ml yang disebut dengan udara pasang surut (tidal air) yaitu yang
dihirup dan yang dihebuskan pada pernafasan biasa. Kecepatan pernafasan
perempuan lebih tinggi daripada pria.
Otot dan Sistem Respirasi
Terdapat otot-otot yang menempel pada rangka dada
yang berfungsi penting
sebagai otot pernafasan. Otot-otot yang berfungsi dalam bernafas adalah sebagai
berikut :
1. Interkostalis eksterrnus (antar iga luar) yang mengangkat masing-masing iga.
2. Sternokleidomastoid yang mengangkat sternum (tulang dada).
3. Skalenus yang mengangkat 2 iga teratas.
4. Interkostalis internus (antar iga dalam) yang menurunkan iga-iga.
5. Otot perut yang menarik iga ke bawah sekaligus membuat isi perut mendorong
diafragma ke atas.
6. Otot dalam diafragma yang dapat menurunkan diafragma.
Di dalam Alveolus, udara yang mengandung oksigen dipertukarkan ke dalam darah.
Sedangkan karbondioksida di dalam darah dikeluarkan ke alveolus.
. Pengikatan O2
— Alveolus memiliki O2 lebih tinggi dari pada O2 di dalam
darah.
— O2 masuk ke dalam darah melalui difusi melewati membran alveolus
— Di dalam darah, O2 sebagian besar (98%) diikat oleh Hb yang
terdapat pada Eritrosit menjadi
Oksihemoglobin (HbO2).
— Selain diikat oleh Hb, sebagian kecil O2 larut di dalam plasma darah
(2%).
— Setelah berada di dalam darah, O2 kemudian masuk ke jantung
melalui vena pulmonalis untuk diedarkan ke seluruh tubuh yang membutuhkan.
Pengeluaran
CO2
—
Di jaringan, CO2 lebih tinggi dibandingkan yang ada di dalam darah.
— Ketika O2 di dalam darah berdifusi ke jaringan, maka CO2 di
jaringan akan segera masuk ke dalam darah.
— Ketika CO2 berada di dalam darah sebagian besar (70%) CO2
akan diubah menjadi ion bikarbonat(HCO3–)
— 20% CO2 akan terikat oleh Hb pada Eritrosit.
— Sedangkan 10% CO2 lainnya larut dalam plasma darah.
— Di dalam darah, CO2 di bawa ke jantung, kemudian oleh
jantung CO2 dalam darah dipompa ke paru-paru melalui arteri pulmonalis.
— Di paru-paru CO2 akan dikeluarkan dari tubuh melalui
ekspirasi.
Proses Oksigenasi
Proses oksigenasi terdiri dari 3 bagian, yaitu :
1. Ventilasi yaitu masuk dan keluarnya udara atmosfir dari alveolus ke
paru-paru atau sebaliknya.
Proses keluar masuknya udara paru-paru tergantung pada perbedaan tekanan antara
udara atmosfir dengan alveoli. Pada inspirasi, dada ,mengembang, diafragma
turun dan volume paru bertambah. Sedangkan ekspirasi merupakan gerakan pasif.
Faktor-faktor yang mempengaruhi ventilasi :
a. Tekanan udara atmosfir
b. Jalan nafas yang bersih
c. Pengembangan paru yang adekuat
2. Difusi yaitu pertukaran gas-gas (oksigen dan karbondioksida) antara alveolus
dan kapiler paru-paru.
Proses keluar masuknya udara yaitu dari darah yang bertekanan/konsentrasi lebih
besar ke darah dengan tekanan/konsentrasi yang lebih rendah. Karena dinding
alveoli sangat tipis dan dikelilingi oleh jaringan pembuluh darah kapiler yang
sangat rapat, membran ini kadang disebut membran respirasi.
Perbedaan tekanan pada gas-gas yang terdapat pada masing-masing sisi membran
respirasi sangat mempengaruhi proses difusi. Secara normal gradien tekanan
oksigen antara alveoli dan darah yang memasuki kapiler pulmonal sekitar 40
mmHg.
Faktor-faktor yang mempengaruhi difusi :
a. Luas permukaan paru
b. Tebal membran respirasi
c. Jumlah darah
d. Keadaan/jumlah kapiler darah
e. Afinitas
f. Waktu adanya udara di alveoli
3. Transpor yaitu pengangkutan oksigen melalui darah ke sel-sel jaringan tubuh
dan sebaliknya karbondioksida dari jaringan tubuh ke kapiler.
Oksigen perlu ditransportasikan dari paru-paru ke jaringan dan karbondioksida
harus ditransportasikan dari jaringan kembali ke paru-paru. Secara normal 97 %
oksigen akan berikatan dengan hemoglobin di dalam sel darah merah dan dibawa ke
jaringan sebagai oksihemoglobin. Sisanya 3 % ditransportasikan ke dalam cairan
plasma dan sel-sel.
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju transportasi :
a. Curah jantung (cardiac Output / CO)
b. Jumlah sel darah merah
c. Hematokrit darah
d. Latihan (exercise)
· 2. Listrik dan MagnetDalam Tubuh• Ilmu yang mempelajari tentang potensial listrik pada organ tubuh
disebut Biolistrik.• Pada biolistrik ada dua aspek yang memegang peranan
penting yaitu : Kelistrikan danv Kemagnetan yang timbul
dalam tubuh manusia, serta Penggunaanv listrik dan magnet
pada permukaan tubuh manusia.
· 3. Sejarah
PerkembanganBiolistrik• Sejarah perkembangan biolistrik yaitu Luigi Galavani
(1780) mulai mempelajari kelistrikan pada tubuh hewan kemudian pada tahun
(1786) Luigi Galvani melaporkan hasil eksperimennya bahwa kedua kaki katak
terangkat ketika diberi aliran listrik lewat suatu konduktor.• Pada tahun
(1856)Caldani menunjukkan kelistrikan pada otot katak yang telah mati, dan pada
tahun (1928) melaporkan tentang pengobatan penderita dengan menggunakan short
wave.
· 4. Kelistrikan dan
KemagnetanDalam Sistem Tubuh• Sistem Syaraf Dan Neuron sumsum§ otak (ensefalon),§Saraf Pusat, Saraf pusat terdiri atas :
saraf tepi (perifer).§tulang belakang (medulla spinalis),
· 5. • Saraf perifer ini adalah
saraf yang mengirim informasi sensorik ke otak atau medulla spinalis
(afferen),• sedangkan serat saraf yang menghantarkan dari otak atau medula
spinalis ke otot serta kelenjar (saraf efferen).
· 6. • Saraf perifer terdiri dari
sistem saraf sadar dan sistem saraf tak sadar (sistem saraf otonom)• Saraf
Otonom, Sistem saraf ini mengatur organ dalam tubuh, misalnya : jantung, usus,
dan kelenjar.
· 7. • Saraf yang berdiameter
besar mempunyai kemampuan menghantar impuls lebih cepat daripada saraf
berdiameter kecil.• Dengan mempergunakan mikroskop elektron, saraf dibagi dalam
dua tipe yaitu, saraf bermyelin dan saraf tanpa myelin.
· 8. • Kecepatan aliran listrik
pada saraf yang berdiameter yang sama dan panjang yang sama sangat tergantung
kepada lapisan mielin ini.• Akson tanpa mielin (diameter 1 mm) mempunyai
kecepatan 20-25 m/detik. Saraf bermielin pada diameter 10 µm mempunyai
kecepatan100 m/detik.
· 9. Kelistrikan PadaSinapsis dan
Neuron• Hubungan antara dua buah saraf disebut sinapsis, berakhirnya saraf pada
sel otot/hubungan saraf otot disebut Neuromyal junction.• Baik sinapsis maupun
neuromyal junction mempunyai kemampuan meneruskan gelombang depolarisasi dengan
cara lompat dari satu sel ke sel yang berikutnya.
· 10. Listrik Jantung• Sumber daya
gerak jantung sangat bergantung pada kemampuan kerja dari sekelompok sel yang
mampu menghasilkan energi listrik dalam jumlah yang cukup untuk membuatnya
terus bergerak.• Sel-sel ini menghasilkan impuls listrik yang kemudian
diteruskan oleh sel-sel penggerak yang tersebar dipermukaan jantung dan hingga
membuatnya berdenyut.
· 11. • Sel-sel ini disebut
Sinoatrial node (SA node) yang terdapat di Atrium sebelah kanan. Selain
memiliki SA node, jantung juga memiliki serabut-serabut khusus yang
mendistribusikan tenaga listrik pada jantung dilakukan.
· 12. • Elektrokardiografi adalah
ilmu yang mempelajari aktifitas listrik jantung.• Sedangkan Elektrokardiogram
(EKG) adalah suatu grafik yang menggambarkan rekaman listrik jantung. Kegiatan
listrik jantung dalam tubuh dapat dicatat dan direkam melalui
elektroda-elektroda yang dipasang pada permukaan tubuh.
· 13. ISYARAT MAGNET JANTUNG•
Mengalirnya aliran listrik akan menimbulkan medan magnet. Medan magnet sekitar
jantung disebabkan adanya arus listrik jantung yang mengalami depolarisasi dan
repolarisasi. Pencatatan medan magnet jantung disebut magnetokardiogram.
· 14. KESIMPULAN Ilmu yang
mempelajari tentang potensial listrik pada organ tubuh disebut Biolistrik.
Kelistrikan dan kemagnetan dalam sistem tubuh meliputi sistem saraf, sinapsis
dan jantung. Ilmu yang mempelajari aktifitas listrik jantung disebut
Elektrokardiografi, dan alatnya dinamakan EKG. Sedangkan pencatatan medan
magnet jantung disebut magnetokardiogram
· 15. TERIMA KASIH
BENDA CAIR,CAIRAN DAN GAS DALAM TUBUH ORANG
Benda Cair, Cairan dan Gas dalam Tubuh Manusia
Benda cair
Tubuh memiliki zat air yang menempati porsi terbesar diperkirakan sekitar 50-60
persen tubuh orang dewasa terdiri atas air. Maka tak heran jika hampir semua
reaksi di dalam tubuh manusia memerlukan cairan. Adapun ciri2 benda cair:
⦁
Molekul terikat secara longgar tapi berdekatan
⦁
Tekanan yang terjadi karena gaya grafitasi
⦁
Tekanan terjadi tegak lurus bidang
Benda cair dalam tubuh manusia
⦁
Dalam pembuluh darah
⦁
Dalam bola mata
⦁
Pada ibu hamil: dalam uterus
⦁
Cairan amnion
Alat ukur tekanan zat cair
⦁
Tonometer
Untuk mengukur tekanan intra okuler
penderita glaukoma
2. Sistometer
Untuk mengukur tekanan kandung kencing.
Cairan tubuh
⦁
Seluruh sel-sel tubuh terendam dalam suatu cairan yang disebut cairan
interstitiel yang bertindak sebagai lingkungan interna dari sel-sel.
⦁
Volume dan komposisi cairan interstitiel harus tetap berada dalam suatu batas
yang tertentu agar sel-sel dapat berfungsi dengan normal.
⦁
Perubahan dari volume dan komposisi cairan interstitiel dapat menimbulkan
kelainan fungsi tubuh (malfungsi).
⦁
Kelainan volume cairan akan mengganggu fungsi kardiovaskuler sedangkan
perubahan komposisi cairan interstitiel akan mengganggu fungsi sel.
⦁
Jadi jelas bahwa harus terdapat suatu regulasi aktif untuk mempertahankan
lingkungan dalam agar tetap konstan.
⦁
Cairan tubuh total : 60% dari BB
⦁
Cairan tubuh total : cairan intrasel 40% BB dan cairan ekstrasel 20% BB
⦁
Cairan ekstrasel :
- plasma darah 5% BB
- cairan interstitiel 15% BB
- cairan transelluler 1,5% BB
⦁
Cairan tubuh total dipengaruhi oleh : umur, jenis kelamin, dan derajat obesitas
Fungsi cairan tubuh
⦁
Pembentuk struktur tubuh
⦁
Sarana transportasi (nutrisi, hormon, dan molekul2 kedlm sel)
⦁
Membantu mengeluarkan sisa2 metabolisme
⦁
Mengatur suhu
⦁
Pelarut elektrolit dan non elektrolit
⦁
Mengisi rongga2 tubuh (cairan pluera, spinal, perikardium, peritoneal)
Lanjutan………………………
⦁
Hal ini menyebabkan kapiler cenderung mendorong cairan melalui porus yang
terdapat pada dinding kapiler keruang interstitiel
⦁
Sebaliknya, tekanan osmotik plasma yang disebabkan oleh protein plasma yang
disebut tekanan koloid osmotik plasma yang disebut juga tekanan onkotik
cenderung mendorong cairan bergerak secara osmosis dari ruang interstitiel ke
plasma, sehingga mencegah hilangnya cairan dari plasma ke ruang interstitiel.
Transport Cairan
⦁
Sistem cardiovaskuler berfungsi untuk mensuplai berbagai bahan yang penting
melalui darah ke seluruh tubuh. Plasma merupakan bagian non seluler dari darah,
plasma berhubungan dengan cairan interstitiel melalui lubang yang terdapat pada
kapiler.
b . Terdapat perbedaan tekanan sebesar 20Mmhg antara plasma
dan cairan interstitiel yang menyebabkan tekanan hidrostatik kapiler lebih
tinggi dibandingkan di dalam ruang interstitial
Cairan tubuh terdiri dari :
Cairan Ekstrasel : semua cairan yang terdapat diluar sel dan terdiri dari
ion-ion dan berbagai bahan nutrisi yang dibutuhkan oleh sel untuk
mempertahankan fungsi sel spt pertumbuhan, perkembangan dan fungsi khusus
lainnya.
Cairan ekstrasel terdiri atas beberapa komponen : plasma, cairan interstitial
dan cairan transeluler.
⦁
Plasma : merupakan bagian non seluler dari darah dan menyusun 24% dari seluruh
cairan ekstrasel. Plasma berhubungan dengan cairan intrasel melalui lubang yang
terdapat pada kapiler.
⦁
Cairan interstitial : merupakan cairan yang terdapat diantara sel, termasuk
didalamnya adalah cairan limpa. Cairan interstitial merupakan 75% dari cairan
ekstrasel
⦁
Cairan transeluler : merupakan cairan yang terdapat pada lumen saluran cerna,
keringat, cairan cerebrospinal, cairan pleura, cairan pericardial, cairan
intraokuler, sinovial, empedu, peritonium dan cairan kokhlea. Berjumlah 1 %
dari cairan ekstrasel
⦁
Cairan intrasel : sekitar 25 liter dari 40 liter cairan dalam tubuh kita
terdapat dalam 100 triliun sel, disebut cairan intrasel yang meliputi 2/3 dari
seluruh cairan tubuh. Cairan intrasel yang terdapat pada tiap sel mempunyai
komposisi yang berbeda tetapi konsentrasi dari tiap komposisi dapat dikatakan
sama dari sel ke sel lainnya.
Pengaturan normal keseimbangan Cairan dlm tubuh
⦁
Ketentuan volume cairan
Intake=Output
⦁
Intake cairan normal
orang dewasa sehat memasukkan cairan normal 90% dr intake/hr
(±2500 cc).
⦁
Output cairan normal
⦁
Balance cairan dipertahankan krn : paru2, saluran cerna, ginjal.
Lanjutan……………………….
⦁
IWL (insessible Water Loss) ad/ hilangnya cairan yg tdk dapat dilihat
(evaporasi n respirasi).
⦁
Dewasa : 8-10 cc/kgBB/24 jam
⦁
Anak : 30 cc/kgBB/24 jam
⦁
Dengan suhu : 10 cc/kgBB ⁺ 200 cc (st-36,8° C)
⦁
Sensibel water loss ad/ hilangnya cairan yang dapat diamati
⦁
Urine : 1-2 cc/kg BB/jam
⦁
Faeces : 100-200 cc/24 jam
⦁
Output urine setiap hr hampir sama dgn intake balance cairan individu dpt
diperkirakan dgn membandingkan intake cairan oral dan output urine.
SUHU SUHU LATIHAN BERAT
NORMAL PANAS DAN LAMA
(ml/hari)
(ml/hari)
(ml/hari)
Insensible Water Loss :
-kulit
350
350
350
-Pernapasan
350
250
650
Non Insensible Water Loss :
-urine
1400
1200
500
-keringat
100
1400
5000
-tinja
100
100
100
total
2300
3300
6600
Pertukaran cairan tubuh
⦁
Difusi : proses pertukaran cairan dari cairan berkonsentrasi tinggi
ke cairan berkonsentrasi rendah
⦁
Osmosis : proses pertukaran cairan dari cairan berkonsentrasi rendah ke cairan
berkonsentrasi tinggi melalui membran semipermiabel
⦁
Transpor Aktif : Proses perpindahan cairan tubuh dapat menggunakan mekanisme
transpor aktif. Transpor aktif merupakan gerak zat yang akan berdifusi dan
berosmosis. Proses penting untuk mempertahankan natrium dalam cairan intra dan
ekstrasel
Penyebab Dehidrasi
A. Hilangnya cairan melalui sal. cerna
- muntah
- Peritonitis
-
diare
- obstruksi usus
B. Hilangnya cairan melalui ginjal
- Insufisiensi adrenal - Diabetes
insipidus
- Diuresis
osmotik - Diuresis berlebihan
C. Hilangnya cairan melalui kulit dan sal. Napas
- Keringat berlebihan - Keganasan
paru
- Luka bakar
Jenis Dehidrasi
⦁
Dehidrasi isoosmotik (Dehidrasi Isotonik C=E) : diare, muntah, eksudasi plasma
pada luka bakar
⦁
Dehidrasi hiperosmotik (Dehidrasi hipertonik C>E) : intake air kurang,
diabetes insipidus, demam, evaporasi kulit berlebihan
⦁
Dehidrasi hipoosmotik (Dehidrasi hipovolemik E>C) : hilangnya Nacl pada
insupisiensi adrenal
Penyebab Udema
Meningkatnya tekanan kapiler
A. Meningkatnya tekanan vena : gagal
jantung, obstruksi vena lokal,
gagalnya
pompa vena.
B. Retensi Na dan air : gagal ginjal
C. Menurunnya resistensi arteriole : demam, paralisis
saraf
simpatis, efek obat
vasodilator
Menurunnya tekanan koloid plasma
A. Kehilangan protein lewat urine : Sindroma Nefrotik
B. Kehilangan protein lewat kulit : Luka, luka bakar
C. Kegagalan produksi protein : peny. hati, KKP
Lanjutan……………….
Meningkatnya permeabilitas kapiler
A. Reaksi imun yang menyebabkan
pelepasan
histamin
B. Toksin
C. Infeksi bakteri
D. Defisiensi vitamin, utamanya vit.C
E. Iskemia
F. Luka bakar
Obstruksi saluran limfe
A. Kanker yang menyumbat sal. Limfe
B. Sumbatan kelenjar limfe oleh infeksi;
filariasis
C. Kelainan kongenital dari pembuluh limfe
Gas dalam tubuh
⦁
Gas tidak memiliki bentuk/volume yang tetap dan mengisi semua ruang yang ada.
⦁
Partikel-partikel dalam gas bebas bergerak dalam ruang dan saling
bertumpukan satu sama lain.
⦁
Tumpukan antara partikel2 gas dgn dinding wabah akan menyebabkan tekanan
Semakin banyak
jumlah tumbukan maka semakin banyak tekanan yg terjadi
Kapasitas paru
Kapasitas paru diukur dengan spirometer
Kapasitas paru laki 5 liter dan wanita 4 liter
⦁
Volume tidal sekitar 450 ml udara yang keluar masuk paru slm pernapasan
⦁
Volume cadangan inspirasi, jumlah udara ekstra yag dapat dihirup di atas volume
tidal saat menarik napas dalam2.
⦁
Volume cadangan ekspirasi, jumlah udara ekstra yg dapat dikeluarkan
selain volume tidal saat menghembuskan napas
⦁
Volume residu, udara yang tersisa dlm paru setelah ekspirasi yg paling kuat.
Meningkat pada penyakit saluran napas obstruktif
⦁
Kapasitas total paru, jumlah kapasitas vital dan volume residu.
Transportasi gas (perfusi
Ad / proses perpindahan gas dr paru ke jaringan dan dr jaringan ke peru dgn
bantuan aliran darah.
oksigen
kapiler jaringan tubuh
karbondioksida jar.
Tbh kapiler
Trasportasi gas oksigen
⦁
Berikatan dgn Hb (Oxyhemoglobin 97%)
⦁
Larut dlm plasma (3%)
Transport karbondioksida
⦁
Larut dlm plasma
⦁
Berikatan Hb (Carbaminohemoglobine 30%
⦁
Sebagai HCO3
Faktor2 yg mempengaruhi Oksigenasi
⦁
Kondisi kesehatan (Ggn organ vital n penykt kronis)
⦁
Perkembangan (Perubhn fisik slm tmbuh kembang)
⦁
Narkotik n Analgesik (mengakibtkan Depresi pusat napas trtma Morphin n
mereridin)
⦁
Pola / gaya hidup (pola aktivitas yg tdk mendukung perkembangan alveoli. Misal
merokok, krg olaraga
⦁
Environment (panas, dingin, altitute n polusi udara)
⦁
Latihan
⦁
Kondisi psikologi (emosi, cemas, marah)
Tujuan Terapi oksigen
Meningkatkan kadar oksigen udara napas kadar oksigen yang ada di
paru-paru menjadi tinggi tekanan pastial oksigen dialveolus
meningkat oksigen yang berdifusi melalui dinding alveolus lebih
banyak kadar oksigen yang terangkut melalui peredaran darah cukup dan
persediaan oksigen di jaringan sel dapat terpenuhi mencegah terjadinya
hipoksia.
Efek langsung dari pemberian fraksi oksigen inspirasi ( FIO2 )
⦁
Mengatasi hipoksemia dengan peningkatan tekanan oksigen alveoli
⦁
Menurunkan usaha pernafasan untuk mempertahankan tekanan oksigen alveoli
⦁
Menurunkan kerja jantung untuk mempertahankan tekanan oksigen arteri
Sumber oksigen
⦁
Oksigen tangki adalah gas kering yang harus bebas debu dan partikel minyak agar
dapat digunakan dalam terapi medik.
⦁
Dari regulator oksigen dapat digunakan untuk menjalankan ventilator, nebulizer,
humidifer dan flowmeter.
⦁
Dari flowmeter baru boleh diberikan ke alat terapi oksigen (kanula, masker,
bag).
Cara pemberian Oksigen
⦁
Kanula hidung
⦁
Sungkup sederhana
⦁
Sungkup dengan reservoir rebreathing
⦁
Sungkup dengan reservoir non rebreathing
⦁
Sungkup venturi
Bahaya-bahaya pemberian O2
a. Kebakaran
Oksigen bukan zat pembakar tetapi oksigen dapat
memudahkan terjadinya kebakaran
b. Depresi ventilasi
Pemberian O2 yang tidak dimonitor baik konsentrasi maupun aliran pada
pasien dgn retensi CO2 dapat menekan ventilasi
c. Keracunan Oksigen
Dapat terjadi bila terapi oksigen yg diberikan dgn
konsentrasi tinggi dalam waktu relatif lama
Keadaan ini dpt merusak jaringan paru dan kerusakan
surfaktan